By : Irma Suryani, S.Pd.I
Ungkapan “kesehatan itu mahal” bukanlah sekadar pepatah lama yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam kehidupan nyata, kebenaran ungkapan ini bisa dirasakan oleh siapa pun yang pernah merasakan sakit atau menyaksikan orang terdekatnya berjuang melawan penyakit. Kesehatan merupakan aset yang tidak ternilai harganya.
Ketika seseorang dalam keadaan sehat, aktivitas sehari-hari bisa dilakukan dengan lancar. Pekerjaan, ibadah, hingga menikmati waktu bersama keluarga menjadi hal yang mudah dan menyenangkan. Namun, ketika kesehatan terganggu, segala hal terasa sulit. Bahkan hal paling sederhana seperti makan atau berjalan pun bisa menjadi beban.
Ironisnya, banyak orang baru menyadari pentingnya menjaga kesehatan ketika sudah jatuh sakit. Mereka baru merasakan betapa mahalnya biaya pengobatan, perawatan rumah sakit, obat-obatan, dan dokter spesialis. Padahal, jika kesehatan dijaga sejak awal, semua biaya itu bisa diminimalisir.
Contoh sederhana, satu malam rawat inap di rumah sakit bisa menghabiskan jutaan rupiah. Belum termasuk biaya dokter, tes laboratorium, dan obat. Sementara itu, menjaga kesehatan dengan makan bergizi dan olahraga secara rutin justru jauh lebih murah dan bahkan bisa gratis.
Tidak hanya mahal dari segi materi, sakit juga menguras emosi dan energi. Penderita penyakit kronis seperti diabetes atau kanker sering mengalami tekanan psikologis yang luar biasa. Selain itu, keluarga pun turut merasakan beban mental dan emosional selama proses pengobatan.
Kesehatan yang terganggu juga berdampak pada produktivitas. Seseorang yang sering sakit akan kesulitan mempertahankan pekerjaan atau prestasi akademiknya. Hal ini berdampak langsung pada penghasilan dan masa depan, baik individu maupun keluarganya.
Dalam skala nasional, tingginya angka penyakit juga menjadi beban bagi negara. Biaya BPJS Kesehatan yang terus meningkat sebagian besar disebabkan oleh gaya hidup masyarakat yang tidak sehat. Negara harus mengeluarkan dana besar untuk membiayai perawatan penyakit yang sebenarnya bisa dicegah.
Gaya hidup modern yang serba instan sering kali menjadi akar dari berbagai masalah kesehatan. Makanan cepat saji, kurang olahraga, stres berlebihan, dan kurang tidur adalah beberapa contoh kebiasaan yang menjadi pemicu penyakit. Sayangnya, kebiasaan ini dianggap wajar dan sulit diubah tanpa kesadaran pribadi.
Kita harus mulai mengubah pola pikir dari “menyembuhkan” menjadi “mencegah.” Mencegah penyakit dengan menjaga pola hidup sehat jauh lebih murah dan efektif daripada mengobatinya setelah terlambat. Pola hidup sehat bukan hanya pilihan, tetapi kebutuhan.
Pemerintah dan lembaga kesehatan sebenarnya sudah banyak mengampanyekan hidup sehat. Namun, tanpa kesadaran individu untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, semua kampanye tersebut akan sia-sia. Perubahan dimulai dari diri sendiri.
Anak-anak sejak dini harus dididik untuk mencintai kesehatan. Mulai dari mencuci tangan, makan sayur, hingga aktif bergerak. Orang tua dan guru memiliki peran besar dalam menanamkan kesadaran ini agar menjadi kebiasaan hingga dewasa.
Olahraga secara teratur tidak harus mahal. Berjalan kaki, bersepeda, atau senam ringan di rumah bisa dilakukan siapa saja tanpa harus ke pusat kebugaran. Yang penting adalah konsistensi dan kemauan untuk memulai.
Begitu pula dengan makanan sehat. Tidak harus mahal. Sayur dan buah lokal bisa menjadi sumber nutrisi penting jika diolah dengan benar. Menghindari makanan berpengawet dan minuman tinggi gula juga langkah sederhana yang bisa dilakukan oleh semua kalangan.
Kesehatan mental juga tidak boleh diabaikan. Stres berkepanjangan dapat memicu berbagai penyakit fisik. Menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan istirahat, serta memiliki waktu untuk diri sendiri dan keluarga, adalah bagian dari hidup sehat yang menyeluruh.
Kesehatan adalah hak setiap orang, tetapi juga tanggung jawab setiap individu. Tidak adil jika kita menyalahkan orang lain atau pemerintah saat sakit, padahal diri sendirilah yang lalai menjaga tubuh yang telah dianugerahkan oleh Tuhan.
Jika kita sadar bahwa kesehatan itu mahal, maka kita akan lebih menghargai tubuh kita. Kita tidak akan sembarangan dalam memilih makanan, waktu tidur, atau aktivitas harian. Kita akan berusaha untuk hidup lebih seimbang dan bijaksana.
Akhirnya, mari kita renungkan: lebih baik menjaga kesehatan dengan sedikit usaha dan pengorbanan setiap hari, ataukah rela menghabiskan waktu, uang, dan tenaga untuk mengobati penyakit yang sebenarnya bisa dicegah? Kesehatan memang mahal, tetapi sakit jauh lebih mahal.
